Tampilkan postingan dengan label Seputar kehamilan dan melahirkan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar kehamilan dan melahirkan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2016

Menyapih Jasmine

Hari ini tepat satu minggu Jasmine disapih. Oke, akan saya ceritakan detail dari hari ke hari sejak pertama saya menyapih Jasmine.

Tanggal 16 Mei
Awalnya, saya sudah bertekad bahwa akan stop ASI mulai hari ini. Tapi kenyataannya, pagi hari, ketika Jasmine bangun tidur sambil menangis, saya luluh juga, dan memberinya ASI. Setelah dia selesai menyusu, saya olesi puting saya dengan garam halus.

Siang ketika dia mengantuk, dia rewel sekali karena tidak bisa menyusu. Melihat puting yang ada putih-putihnya (garam), dia tidak mau menyusu. Nangis sampai sesenggukan, akhirnya saya luluh lagi. Saya susui lagi Jasmine siang itu. Si Papi yang melihat itu, mengingatkan saya, jangan sampai Jasmine menjadikan tangisannya sebagai senjata supaya bisa menyusu.

Siang itu, saya melakukan kesalahan yang sangat fatal, yaitu membersihkan garam di hadapan Jasmine. Dia akhirnya tahu bahwa putih-putih itu bisa dibersihkan. Malamnya, dia rewel lagi, dan berusaha meminta saya untuk membersihkan putih-putih itu. Tapi tidak saya turuti. Dia akhirnya tidur tanpa menyusu. Tengah malam dia bangun, nangis minta nenen. Antara sadar dan tidak, akhirnya saya beri ASI lagi.

Tanggal 17 Mei
Hari ini saya sudah bertekad (lagi), benar-benar stop ASI. Paginya sih dia baik-baik saja, karena Kak Asha pas libur, jadi mereka bisa bermain bersama. Nah siangnya, ketika sudah capek bermain, mulailah Jasmine mencari nenen. Saya langsung tegas pada Jasmine, " No, Jasmine. Mulai sekarang tidak boleh mimik."

Jasmine langsung mengeluarkan senjatanya, yaitu menangis dengan sedikit jeritan. Saya pangku dia, saya jelaskan baik-baik bahwa Jasmine sudah besar, sudah berumur 2 tahun, jadi harus stop ASI, dia tetap melawan, tapi saya biarkan saja. Mungkin tangisan ini berlangsung selama beberapa menit, lalu sudah tidak terdengar lagi. Dia ketiduran di pangkuan sambil memeluk saya.

Jadi siang itu, saya jelas tidak bisa melakukan apa-apa, karena Jasmine tidak mau diletakkan di kasur. Setiap saya letakkan di kasur, dia akan bangun dan menangis, minta dipeluk dan dipangku, lalu tidur lagi. Begitu terus.

Malamnya, Jasmine tidur tanpa meminta nenen sekalipun. Tengah malam ketika bangun dan rewel, dia selalu memegang baju saya di bagian dada, berusaha membukanya ingin menyusu, tapi saya tawarkan air putih. Dia menurut ketika saya beri air putih. Lalu kembali tidur setelah sedikit rewel.

Tanggal 18 Mei
Sejak pagi, Jasmine sudah benar-benar tidak meminta nenen sama sekali. Siang dia tetap tidur di pangkuan saya, tapi ketika sudah lelap, saya bisa meletakkannya di kasur. Ketika bangun-bangun pun dia tidak mencari nenen, dan langsung tidur lagi.

Malamnya juga begitu. Dia langsung tidur setelah capek bermain. Bangun tengah malam, langsung saya kasih air putih, lalu tidur lagi tanpa rewel sedikitpun.
Alhamdulillah..

Daaaannn..
Hari-hari berikutnya, Jasmine sudah benar-benar tidak mencari nenen lagi. Saat bangun tengah malam pun, dia tidak mencari nenen, tinggal saya kasih air putih, Jasmine akan tidur lagi. Sepertinya dia sudah move on, hahahaha..
Alhamdulillah..

Ketika haus, dia akan langsung mengambil air putih sendiri dan meminumnya. Nafsu makannya sudah semakin besar. Makanan kesukaan Jasmine saat ini adalah mie dan sayur sop.

Hanya saja kadang-kadang ketika dia mengantuk, dia akan menjadi sangat rewel. Apapun yang saya lakukan selalu salah. Tapi itu hanya sesekali saja.

Pelajaran yang saya tarik di sini adalah, kita harus tegas ketika memutuskan untuk menyapih anak. Tidak, berarti tidak. Walau anak rewel, ngamuk, biarkan saja. Tetap konsisten stop nenen. Dan juga sabar, jangan sampai emosi kita juga ikut terpancing. Mungkin hanya beberapa hari saja anak kita rewel. Kalau kita konsisten, insyaAllah anak kita juga akan segera move on.

Kamis, 20 Agustus 2015

Haid lagi, dan Jasmine tidak bisa diam

Setelah kemarin sempat agak khawatir, akhirnya hari ini saya bisa bernafas lega karena akhirnya kedatangan bulan juga, alias haid. Sejak kelahiran Jasmine, terhitung sudah 15 bulan saya tidak haid. Asha dulu hanya 13 bulan.

Merasakan haid lagi setelah sekian lama tidak haid itu agak aneh ya. Mau ngapa-ngapain merasa tidak enak, sedikit-sedikit merasa parno khawatir darahnya tembus. Atau juga ketika dengar suara adzan, langsung siap-siap mau wudhu dan shalat, untungnya keburu ingat.

Next topic, Jasmine sekarang tidak bisa diam. Sekarang sudah tidak ada lagi si Jasmine yang mau duduk anteng dipangkuan. Di mana-mana pasti tidak mau duduk. Ini sebenarnya adalah sesuatu yang positif ya, tapi kadang ngeselin juga.

Contohnya ketika ada acara halal bihalal di sekolah Asha. Karena si Papi harus kerja, akhirnya saya datang sendiri dengan Asha dan Jasmine. Di sana, Jasmine maunya jalan-jalan keluar ruangan terus, dan karena pintu aulanya tidak bisa ditutup, akhirnya saya harus beberapa kali berdiri untuk mengambil Jasmine yang mau kabur keluar. Karena tidak enak sama yang lain, akhirnya saya memilih duduk di dekat pintu. Tapi Jasmine tetap saja tidak mau diam. Bahkan ketika mau saya susui, Jasmine berontak dan rewel minta dilepaskan, sampai-sampai semua orang melihat ke arah kami. Karena tidak mau mengganggu yang lain, saya terpaksa membawa Asha dan Jasmine pulang. Toh buat apa di sana terus kalau kenyataannya saya tidak bisa mengikuti acaranya.

Contoh lain adalah ketika kami sedang di dalam mobil. Saya yang biasanya duduk di kursi depan, harus rela pindah ke kursi tengah karena selama di depan, Jasmine selalu berontak dan berusaha lepas dari pegangan saya, lalu memencet-mencet layar tape, atau memainkan putaran AC, atau menggoyang-goyang pedal gigi, dll. Selain dapat mengganggu konsentrasi Papi sebagai sopir, kelakuan Jasmine yang tidak karuan ini juga menyebabkan saya merasa mabuk darat. Karena kebanyakan bergerak, saya akhirnya merasa pusing dan mual. 

Ya sudah, mau tidak mau akhirnya saya pindah ke kursi tengah, dan Asha, dengan sangat gembira, bisa duduk di kursi depan.Di kursi tengah ini, Jasmine lebih bebas bergerak karena kursinya lebih luas, dan yang perting, tidak ada benda-benda yang bisa diutak-atik, hahahahaha..

Kamis, 12 Juni 2014

Hal-hal terkait kelahiran Jasmine

Berbeda dengan Asha yang dulu ketika lahir berambut kriwul, Jasmine lahir dengan rambut lurus jabrik-jabrik. Tumbuhnya rambut ini saya yakin karena sewaktu hamil saya rutin meminum air rebusan kacang hijau.

Tali pusar Jasmine lepas pada hari Senin tanggal 19 Mei 2014 siang, atau empat hari setelah kelahirannya.

Walaupun saya sudah berusaha memosisikan bayi secara tepat ketika menyusu, tapi puting saya tetap lecet bahkan sampai berdarah, terutama yang sebelah kanan.
Payudara kanan juga lebih bengkak dan lebih keras daripada payudara kiri, padahal saya sudah berusaha sebisa mungkin "adil" dalam menyusukan kedua payudara.
 
Bengkak dan lecet di payudara sudah jauh berkurang di H + 10 sejak kelahiran.

Dulu ketika kelahiran Asha, saya baru bisa BAB seminggu setelah kelahiran. Tapi sekarang, Alhamdulillah saya sudah bisa BAB keesokan hari setelah kelahiran.

Setiap malam, Jasmine hanya bangun karena 3 hal, minta mimik, BAK dan BAB. Selain itu, dia tidak rewel. Bahkan di awal kelahirannya, saya tidak pernah begadang sekalipun.

Saya sudah mengungsi ke Kediri sejak awal Mei, sedangkan Papi tetap di Mojokerto karena harus bekerja. Papi pulang ke Kediri dua kali seminggu. Setiap hari saya mengafirmasi bayi dalam perut saya supaya dia lahir ketika Papinya ada di rumah Kediri menemani saya, tidak lupa berdoa hal serupa juga. Dan Alhamdulillah semua itu terwujud.

Jasmine lahir dengan kondisi kulit yang keriput dan kering. Tapi alhamdulillah dengan rutin minum ASI tubuhnya mulai berisi dalam beberapa hari, dan sekarang pipinya terlihat chubby sekali *gemes*

Luka jahitan Alhamdulillah membaik dengan cepat. H+6 sejak kelahiran saya sudah memandikan Jasmine (walaupun masih dengan posisi berdiri), H+14 saya sudah bisa membantu membagikan nasi aqiqah Jasmine.

Setelah kelahiran Jasmine, berat badan saya yang sebelumnya mencapai 69-70kg langsung turun menjadi 63kg. H+18 saya timbang badan lagi sudah berubah jadi 60kg.

Selasa, 10 Juni 2014

Si Kakak cemburu ?

Waktu H+6 setelah kelahiran Jasmine, tiba-tiba Asha terserang demam, muntah dan berak. Karena muntahnya itu juga membuat dia tidak mau makan. Demamnya Alhamdulillah sembuh dalam dua hari, tapi muntah dan beraknya terus berlangsung selama satu minggu. Berat badannya sampai turun 1kg.

Selama itu pula Asha kalau mau apa-apa maunya sama saya. Pipis maunya sama Mami, minum maunya diambilin Mami, bobo maunya sambil dipeluk Mami, semua sama Mami, membuat saya, yang walaupun sudah baikan tapi belum fit benar, jadi agak kerepotan.

Banyak yang bilang ini karena si Kakak cemburu. Perhatian yang dulu tercurah penuh untuknya, sekarang harus terbagi. Untungnya, Jasmine ini tergolong anak yang tenang dan bisa ditinggal-tinggal. Jadi ketika dia sudah tidur, saya usahakan waktu saya sebisa mungkin untuk Asha, supaya dia tidak merasa tersisihkan.

Tapi terkadang manjanya Asha bisa muncul di saat yang tidak tepat, sehingga bikin saya sedikit emosi.

Jadi ceritanya, setiap malam ketika Papi di Mojokerto, Asha tidak mau tidur dengan Yangtinya, maunya sama saya. Alhasil, saya, Jasmine dan Asha harus berbagi tempat tidur untuk bertiga. Dan karena kasurnya tidak cukup, kami akhirnya tidur menyamping, yang membuat bagian bawah kaki saya harus menggantung. Posisi saya di tengah.

Kemarin malam, Jasmine terbangun seperti biasa untuk mimik. Waktu itu hampir pukul 12 malam. Biasanya, langsung saya susui lalu tidur lagi. Nah, tenyata, Asha juga terbangun. Langkah pertama, saya ajak Asha pipis dulu, supaya dia tidak ngompol. Setelah itu rencananya saya suruh Asha tidur lagi sementara saya menyusui Jasmine. Tapi ternyata rewelnya Asha kumat.

Begitu saya siap-siap mau menyusui Jasmine yang sudah mulai teriak-teriak, Asha malah minta diantar ambil minum sambil merengek setengah menangis (biasanya dia mau ambil sendiri). Dengan sedikit marah saya antar dia ambil minum.

Setelah urusan minum selesai, saya langsung menyusui Jasmine yang mulai menangis. Tapi Asha belum selesai sampai di situ. Dia mulai menangis lagi sambil bilang kalau lemeknya melorot. Lemek maksudnya adalah perlak yang dilapisi kain untuk alas tidurnya, karena Asha belum sepenuhnya bisa menahan pipis ketika tidur. Dan karena posisi saya sedang menyusui Jasmine (miring ke kanan), sedangkan posisi Asha ada di kiri saya, tentu saya tidak bisa membetulkan posisi lemeknya.

Saya mencoba menahan kesabaran dengan mengatakan pelan-pelan kalau Kak Asha bisa membetulkan sendiri, tapi Asha tetap menangis dan bilang ga bisa. Kondisi mengantuk, sambil berusaha menyusui dan menidurkan Jasmine lagi, diiringi dengan tangisan Asha yang semakin menjadi, ditambah dengan kekhawatiran akan mengganggu tidur Yangtinya, membuat saya agak emosi.

Saya tetap berusaha sabar dan terus bilang dengan suara pelan bahwa Kak Asha bisa membetulkan sendiri lemeknya, saya ulang berkali-kali. Lalu request Asha berubah, kali ini dia minta peluk (masih sambil menangis). Memang sudah kebiasaan dia, ketika dia menangis, dia akan minta peluk kepada saya. Masalahnya, sekarang kondisinya saya sedang menyusui Jasmine, tentu saja saya tidak bisa memeluknya. Saya jelaskan pelan-pelan kalau saya tidak bisa memeluknya karena sedang menyusui adik.

Dia lalu mendekati saya dan memeluk saya dari belakang.

Seketika emosi saya langsung padam. Kadang kalau kondisi sedang tidak enak, perasaan jadi mudah emosi. Tapi ketika emosi sudah mereda, rasanya menyesaaall sekali tadi sudah muncul perasaan marah, Asha hanyalah seorang anak umur 3 tahun yang belum tahu apa-apa dan sedang menginginkan perhatian ibunya.

Maafin Mami yang Sayang..
Mami akan berusaha lebih sabar lagi..

*nulis ini sambil nangis bombay*

Senin, 19 Mei 2014

Rumah Sakit Muhammadiyah Kediri

Dulu waktu usia kehamilan menginjak 7 bulan, saya dan suami mulai survey harga di beberapa rumah sakit di Kediri. Dan inilah hasilnya (ini hanya garis besar saja ya..)
*harga di bawah ini adalah harga perkiraan total untuk kelahiran normal (1 kamar untuk 1 orang)

RSB. Ratih Kediri (Jalan Penanggungan)
- Kelas VIP, harga : 5,5 jt - 6 jt, fasilitas kamar : AC, TV
- Kelas 1, harga : 4 jt - 4,5 jt, fasilitas kamar : AC, tanpa TV
- Kelas 2, harga : dibawahnya, fasilitas kamar : kipas

RS. Baptis Kediri
- Kelas VVIP harga 7 jt - 8 jt
- Kelas VIP sama, hanya beda harga kamar, selisih 200rb.
Saya tidak tanya fasilitas karena dari harga saja sudah terlalu mahal :)

RSB. Citra keluarga Kediri
- Kelas VIP A, harga : 7 jt - 8 jt, fasilitas : AC, tempat tidur penunggu, kulkas
- Kelas VIP B, harga : 6,5 jt - 7 jt
- Kelas 1, harga : 5 jt - 5,5 jt, fasilitas : kipas

RS. Muhammadiyah Kediri
Yang 1 kamar untuk 1 orang hanya kelas VIP.
Perkiraan harga : 2,5 jt -3 jt non obat.
Fasilitas : Tempat tidur, sofa panjang penunggu, TV

RS. Lirboyo Kediri
- Kelas VIP, harga : 4,35 jt, belum termasuk obat.
Fasilitas : TV, AC, kulkas, bed penunggu, pemanas kamar mandi
- Kelas 1, harga : 3,8 jt, belum termasuk obat.
Fasilitas : TV, AC, kursi penunggu

Dan akhirnya pilihan kami jatuh pada Rumah Sakit Muhammadiyah Kediri. Alasannya :
1. Lebih dekat dari rumah
2. Harga relatif murah dibanding yang lain.
3. Waktu saya periksa USG ke sana beberapa kali, saya terkesan dengan dokternya yaitu dokter Vika yang menurut saya dan suami sangat informatif, ramah, santai dan tidak terburu-buru ketika memeriksa pasien. Saya juga terkesan dengan para pegawainya mulai dari bagian pendaftaran, perawat, bagian obat sampai bagian kasir yang saya nilai sangat ramah dan murah senyum.

Dan Alhamdulillah pilihan kami tidak salah. Saya dan suami puas dengan pelayanan dan fasilitas di RS ini.
1. Menu makanannya sangat variatif dan rasanya pun enaaakkk :)
2. Fasilitas kamar VIP ternyata lebih lengkap dari hasil survey saya di atas. Ada AC, kulkas, banyak laci untuk tempat barang, ada satu kursi pengunjung juga. Sofanya pun berbeda dari bayangan saya. Semula saya membayangkan hanya ada sofa panjang biasa, tapi ternyata yang ada justru sofa bed yang panjang dan lebar mirip tempat tidur.
3. Di kamar mandi juga ada pemanas air
4. Untuk ibu yang melahirkan dan menempati kelas VIP, ada fasilitas spa selama 1 jam.
5. TV nya menggunakan TV kabel, sehingga pilihan acaranya jauh lebih bervariasi.
6. Bisa menggunakan BPJS. Saya yang hanya memiliki kartu ASKES pun bisa menggunakannya. Dari total biaya 2,9jt (kami menginap 2 hari 1 malam, sejak Kamis pagi hingga Jumat malam), kami hanya membayar 480ribu rupiah. Surprise juga hanya membayar segitu. Alhamdulillah..

Ini ada beberapa foto kamar VIP RS Muhammadiyah Kediri










Lahirnya bidadari kedua

Alhamdulillah, hari Kamis kemarin (tgl 15 Mei 2014) telah lahir putri kedua kami secara normal. Beratnya melebihi perkiraan dokter sebelumnya yang hanya di bawah 3kg, ternyata malah 3,2kg. Panjangnya 51cm.

Kronologis kelahirannya seperti ini :

Hari Rabu, sekitar  pukul 10 malam, saya mulai merasakan adanya kontraksi yang berbeda dari sebelumnya. Jika yang sebelumnya hanya berupa rasa kencang-kencang di perut, tapi malam itu ada rasa sakitnya, rasa sakit khas sebelum kelahiran, tapi masih ringan. Saya hitung jeda waktu datangnya kontraksi tersebut, ternyata baru 10 menit sekali. 

Langsung ingat pesan dokter, ada 3 hal yang menyebabkan harus segera ke rumah sakit :
1. Pecah ketuban
Tandanya ketuban telah pecah adalah, ketika ada cairan yang keluar dari miss v padahal kita tidak merasa sedang BAK. Ketika dicium tidak berbau.
2. Adanya kontraksi yang semakin kuat dan semakin sering
3. Keluarnya lendir atau darah

Karena jarak kontraksinya masih 10 menit sekali, dan tidak ada darah yang keluar, jadi saya tidak langsung ke rumah sakit, mungkin menunggu kalau kontraksinya jadi 5 menit sekali. Tapi sampai saya ketiduran, dan bangun jam setengah 5 pagi, sepertinya jeda waktu kontraksinya belum bertambah. Kenapa saya bilang "sepertinya"? Karena sepanjang malam itu saya beberapa kali terbangun karena kontraksi ini. Dan ketika melihat jam dan menghitung, jarak kontraksinya masih 10 menit sekali.

Saya langsung pergi ke kamar mandi untuk BAK dan wudhu. Ketika saya cebok, saya menemukan ada lendir berwarna merah dari miss v. Langsung saya beri tahu suami supaya segera pergi ke rumah sakit. Karena satu dan lain hal, kami baru berangkat ke RS pukul 6 pagi. Dalam jeda waktu itu, kontraksi yang saya rasakan semakin sering, sekitar 5 menit sekali.

Begitu sampai di RS, sekitar pukul 6.30 saya diperiksa dan sudah bukaan 4 - 5. Sambil menunggu, saya sempatkan sarapan dulu yang disajikan oleh pihak RS. Sebenarnya disuruh menghabiskan semuanya, tapi apa daya perut sudah kenyang, jadi cuma bisa makan setengah porsi saja (padahal rasanya enak lho..)

Pukul 8.30 diperiksa lagi sudah bukaan 7 - 8. Dan pukul 9.15 lahirlah putri kedua kami. Dia lahir dengan lilitan tali pusar di lehernya. Padahal waktu di USG tidak terlihat adanya lilitan. Kata bidannya, kalau bayi dengan lilitan di leher itu biasanya akan susah turun ke jalan lahir, tapi Alhamdulillah bayi saya ini justru cepat turunnya.

Tantangan belum selesai sampai di situ. Tahap berikutnya adalah menjahit sobekan yang terjadi (sobekan kali ini alami tanpa digunting). Kata bidannya lagi, ada jahitan dalam dan luar. Untuk jahitan dalam akan diberi obat bius, tapi jahitan luar akan dilakukan tanpa obat bius. Alasannya, karena kulit luar sangat tipis, jadi kalau diberi obat bius justru akan semakin sakit.

Dulu ingat ada seorang teman yang cerita kalau dia dijahit tanpa dibius. Dan sekarang saya merasakannya sendiri. Rasanya? Wow.. Tidak bisa diceritakan dengan kata-kata. Yang pasti, seluruh tubuh saya sampai gemetar hebat karena menahan rasa sakitnya.

Tahap berikutnya adalah IMD. Tapi di RS sini, IMD nya langsung menempatkan bibir bayi ke puting. Dan Alhamdulillah ASI nya langsung keluar setelah beberapa hisapan. Adik bayi langsung minum lamaaaaa sekali.

Bayi kami lahir dengan panjang 51cm dan berat 3,2kg.
Namanya Jasmine Leanna Rarasati.
Artinya bunga melati yang baik hatinya.
Semoga selalu tumbuh sehat, kuat, ceria, menjadi anak yang sholihah dan berbakti kepada kedua orang tua.
Aamiin...

Selasa, 03 Desember 2013

Ngompol lagi dan update kehamilan

Entah kenapa, tapi akhir-akhir ini Asha mulai mengompol lagi setelah dua minggu lebih bisa pipis di kamar mandi. Seolah-olah, Asha tiba-tiba lupa rasanya kebelet pipis itu bagaimana, atau lupa kalau ketika dia kebelet pipis, dia harus segera ke kamar mandi. Ya tapi memang harus sabar. Mungkin ini proses yang harus dilalui. Akhirnya saya kembali lagi seperti proses pembelajaran awal dulu, yaitu dengan mengajak Asha pipis di kamar mandi setiap dua atau tiga jam sekali.

Agak berat juga, apalagi jika Asha ngompolnya di tempat yang jauh dari kamar mandi, misalnya di pagar depan rumah, saya harus mengangkat Asha sampai ke kamar mandi supaya jejak kakinya tidak mengotori lantai rumah. Dan itu lumayan menguras tenaga, mengingat saya sedang hamil 4 bulan.

Oya, update tentang kehamilan. Seperti kebanyakan ibu hamil pada umumnya, saya juga mengalami mual muntah di trimester awal. Ketika usia kehamilan 2 bulan, berat badan saya turun 1kg, menjadi 55kg. Menginjak bulan ketiga, berat badan saya kembali naik 1kg. Dan sekarang, di usia kehamilan 4 bulan, BB sudah menjadi 57kg. Mual muntah sudah berkurang, tapi belum hilang total. Saya beberapa kali muntah-muntah hebat ketika melakukan perjalanan Mojokerto- Kediri dengan mobil.



Kamis, 03 Oktober 2013

pendarahan

Seperti yang saya tulis di post sebelumnya, saya melakukan uji kehamilan melalui testpack dan hasilnya positif. Hari Selasa, tanggal 1 Oktober kemarin, saya mengalami pendarahan. Pagi itu, darah yang keluar banyak sekali, seperti wanita kalau sedang menstruasi. Sempat khawatir juga, soalnya pengalaman teman-teman yang pernah keluar darah saat hamil, darahnya hanya berupa flek saja, yang terparah pun kira-kira hanya sebesar koin 500 rupiah saja. Sedangkan saya kemarin, banyak sekali.

Karena Papi harus kerja sampai sore jam 5, jadi baru bisa periksa ke dokter malam hari. Selama seharian itu, darahnya keluar terus. Saya sampai ganti pembalut 3 kali. Menjelang sore, Alhamdulillah darahnya jauh berkurang. Dari jam setengah 5 sore saya mandi, sampai saya ke dokter jam 7, pembalut masih bersih.

Menurut banyak informasi yang saya dapat dari google, ketika darah keluar banyak seperti yang saya alami, itu adalah pertanda keguguran. Saya dan suami sudah ikhlas kalau memang terjadi keguguran. Tapi kami tetap berdoa supaya janin di rahim saya selamat.

Pukul 6.45 saya tiba di tempat praktik Dokter Ahmad Rheza di jalan Gajahmada, Mojokerto. Walaupun tertulis buka prakteknya mulai jam 5 sore, tapi sampai jam 7 malam dokternya belum datang juga, katanya sih sedang ada urusan mendadak di rumah sakit. Karena dapat urutan nomor 12, saya memutuskan untuk jalan-jalan dulu mencari makanan favorit saya dan Asha, yaitu ANGSLE. Sekedar intermezzo ya, Asha itu kalau sudah makan angsle, dia bisa menghabiskan satu mangkok sendirian. Jadi kalau pesan ya otomatis harus 3 mangkok, hahahahahaha.. Tapi sayang malam itu penjual angsle langganan kami (lokasi di depan bank Mandiri, samping Sultan Keraton) tutup.

Oke, kembali ke topik. Ketika kami kembali ke tempat praktek dokter Rheza pada pukul 7.45, antrian sudah sampai urutan ke 9. Cepat juga pikir saya. Dan ternyata memang benar, setiap pasien yang masuk rata-rata hanya menghabiskan waktu 5 menit saja. Singkat sekali. Saya sempat khawatir, jangan-jangan dokter ini tipe dokter yang pendiam, dan tidak enak untuk ditanya-tanya. Ketika giliran saya masuk, saya langsung ditanya apakah darahnya masih keluar atau tidak, lalu langsung di USG. Deg-degan jantung saya, khawatir kalau ternyata isinya kosong.

Ternyata, di layar terlihat sebuah lingkaran kecil. Dokternya bilang, janinnya masih ada, jantungnya juga. Alhamdulillah, bukan main senangnya hati saya. Pendarahan ini adalah ancaman keguguran yang serius, saya harus bed rest selama 3 hari dan tidak boleh kecapekan. Pak dokter meresepkan folavit (asam folat) dan juga obat penguat kandungan. Beliau juga mengatakan bahwa berhubungan suami istri boleh, asalkan memakai k*nd*m atau spermanya dikeluarkan di luar, karena sperma dapat memicu kontraksi.

Dokter Rheza ini tipe dokter yang pasiennya harus aktif bertanya, karena dokternya memang hanya menjelaskan seperlunya, lalu beliau memberi waktu apakah kami ada yang ingin ditanyakan, sayangnya saya tidak menyiapkan pertanyaan apa-apa. Tapi lain kali, saya akan menyiapkan banyak pertanyaan untuk dokter, hohohohohoho...

Selasa, 17 September 2013

Kehamilan kedua dan Flashback kehamilan pertama

Bulan Agustus kemarin, saya mulai mens tanggal 10. Nah, kalau siklus menstruasinya 28 hari, berarti bulan September ini harusnya saya sudah mens sekitar tanggal 7 atau 8. Tapi sampai tanggal 14 September saya belum juga menstruasi. Saya suka GR nih setiap telat mensnya. GR kalau-kalau hamil lagi.

Akhirnya malam itu saya beli tespack di apotek yang harganya paling murah, cuma 3500 rupiah saja. Tanggal 15 September pagi langsung saya tes. Dan hasilnya..

Alhamdulillah dua garis ^_^


Senangnya luar biasa. Harus mulai dicatat nih, sekarang berat badan 56 kg, nanti dilihat kenaikan berat badannya sampai berapa kg. Dulu waktu kehamilan Asha, saya naiknya sampai 15 kg. Doanya sih standar-standar saja ya, semoga kehamilan ini selalu sehat, janinnya tumbuh sehat dan nanti bisa melahirkan dengan normal dan lancar, aamiin..

Oya, ada satu lagi berita gembira. Salah satu teman dekat saya, namanya Rika, baru saja melahirkan bayi laki-laki. Ini adalah anak keduanya. Dulu waktu anak pertama, harus dilahirkan secara caesar karena si Rika ini tidak juga mengalami kontraksi, padahal air ketubannya sudah pecah. Nah, Alhamdulillah anak keduanya ini bisa dilahirkan secara normal. Padahal ya, waktu dia periksa ke dokter kandungan langganannya, si dokter langsung memvonis bahwa Rika harus caesar lagi. Tapi Rika tidak mau menerima begitu saja, dia akhirnya memilih periksa ke dokter lain. Dan ternyata memang bisa lahir normal kok..
Selamat ya Bo...

Jadi pengen mengenang masa-masa hamil Asha dulu..

Saya dulu juga tes kehamilan waktu telat menstruasi 10 hari. Waktu itu ada kejadian nih. Sekitar 1 hari setelah tes itu, saya jatuh dari motor. Waktu itu saya masih bekerja sebagai PNS. Nah, waktu mau berbelok masuk halaman kantor, saya tidak menyadari bahwa di jalanan itu banyak pasir. Alhasil motor saya terpeleset dan saya jatuh dengan posisi tengkurap. Rok saya sobek, lutut dan kaki luka-luka sampai berdarah. Tapi alhamdulillah kondisi kehamilan baik-baik saja.

Sama seperti kebanyakan ibu hamil lainnya, saya juga mengalami mual, muntah dan tidak nafsu makan selama trimester awal. Bahkan bukannya naik, berat badan saya malah turun 2 kg. Tapi dokter bilang itu wajar, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Lalu sampai kehamilan 5 bulan, perut saya belum kelihatan membuncit. Yang lucu, waktu itu saya ikut dalam acara gathering kantornya Papi. Ternyata teman-teman Papi pada bisik-bisik, "katanya hamil, mana? kok ga keliatan ya?"
Lalu ada Mbak Endang yang bilang ,"masa perutnya orang hamil sama perutku yang ga hamil, malah besar perutku sih?" hahahahahaha..

Ada juga kejadian sedih. Waktu kehamilan umur 7 bulan, Bapak Mertua saya meninggal dunia, tepat 2 bulan sebelum kelahiran Asha. Saya sangat sedih waktu itu, karena Asha adalah calon cucu beliau yang pertama. Tapi Papi mengingatkan kalau saya tidak boleh terlalu bersedih, kasihan bayi dalam kandungannya.

Waktu kehamilan 7 bulan juga, waktu saya periksa ke Dr. Nanang di Sidoarjo, saya diberi tahu bahwa ada tali pusat yang melilit leher si bayi. Dan tidak hanya satu, tapi ada dua lilitan. Saya sempat khawatir, soalnya saya ingiiiiiiiin sekali melahirkan normal. Akhirnya saya bisiki terus bayinya seperti ini ,"ayo dek, tali pusat di lehernya dilepas yuk.."
Tidak lupa juga sambil nungging-nungging dan berdoa terus.
Alhamdulillah waktu periksa satu bulan kemudian, tali pusat di lehernya sudah tidak ada. Posisi bayinya juga sudah bagus. Plasenta yang sebelumnya berada di dekat jalan lahir (yang sempat membuat saya khawatir juga) juga sudah agak bergeser ke atas, jadi jalan lahir sudah aman.

Mungkin itu saja ya..
Untuk proses kelahiran, bisa klik di SINI dan di SINI.

Selasa, 18 September 2012

Flashback kelahiran Asha


Postingan kali ini, saya ingin sedikit flashback detik-detik ketika saya melahirkan Asha.
Waktu itu hari Rabu tanggal 13 Juli 2011 sekitar pukul 21.00, ketika saya sedang telpon-telponan sama Papinya Asha (karena waktu itu saya berada di Kediri dan papinya Asha kerja di Pasuruan). Di telpon itu Papi terus memantau bagaimana kontraksi yang saya rasakan. Sampai malam itu, saya baru mengalami kontraksi ringan saja 5 sampai 10 menit sekali, belum ada tanda-tanda mau melahirkan, padahal HPLnya ya hari itu.

Sambil bercanda saya bilang “ kalo sampe besok masih begini aja gimana? Besok pulang ya Pi..
Dan dijawab,” iya, pokoknya begitu keluar darahnya ya langsung pulang

Setelah telpon ditutup, saya pergi ke kamar mandi. Ketika saya lihat di CD sudah ada darahnya, saya sedikit kaget. Langsung teringat kata-kata dokter kandungan saya, kalau keluar darah berarti harus segera ke rumah sakit, sebentar lagi mau melahirkan.

Cepat-cepat saya telpon Papi lagi untuk mengabarkan hal ini.
Saya : Pi, sudah keluar darahnya..
Papi : Hah? Serius? (ga percaya, dikira saya sedang bercanda)
Saya : iya, serius..
Papi : Beneran? (masih ga percaya)
Saya : iyaaaaaaaaa…

RUANG BERSALIN

Sebenarnya saya sendiri juga kaget, baru saja bercanda2 di telpon, ehh.. keluar darahnya beneran. Langsung saya ke rumah sakit dengan Ibu Mertua dan Adik Ipar jam 22.00, dan langsung masuk ke ruang bersalin.

Oya, tentang ruang bersalin ini, sebelumnya saya tidak percaya ketika ada seorang teman yang bilang bahwa ketika kita melahirkan di rumah sakit itu, kita akan ditempatkan di suatu ruangan bersalin bersamaan dengan beberapa ibu hamil lainnya.
Waktu itu saya pikir “Hah??serius?? berarti kita bisa dengar jeritan ibu lain yang sedang melahirkan? ga mungkin dong.. kan kasian ibu-ibu yang baru pertama kali melahirkan, mereka pasti ketakutan..”

Ditambah lagi selama ini saya melihat di tipi-tipi bahwa ibu melahirkan di rumah sakit pasti di ruangan yang isinya hanya 1 orang, saya semakin tidak percaya dengan kata-kata teman saya itu.

Tapi ternyata teman saya itu benar. Waktu itu saya dibawa ke sebuah ruangan dengan 3 orang ibu hamil lainnya. Bahkan saya sempat mendengar suara 2 ibu lainnya yang melahirkan lebih dulu. Ketika mendengar suara tangisan bayi, hati saya terharu dan ikut gembira, ingin menangis rasanya, hehehe..

Seorang ibu muda di samping saya juga sama dengan saya, ini kehamilan pertamanya. Dia sudah masuk ke ruang bersalin lebih dulu dari saya. Tetapi sepanjang malam saya di sana, yang saya dengar adalah tangisannya. Dia terus mengeluhkan sakit di perutnya kepada suaminya. Sepertinya ada faktor ketakutan juga setelah mendengar ibu-ibu lain yang melahirkan duluan, bahkan setelah saya keluar dari ruangan itu, bukaannya belum komplit juga. Kasihan..
Oya, detail-detail waktu kontraksi sampai saya melahirkan sudah pernah saya posting DI SINI ^_^

DIGUNTING DAN DIJAHIT

Waktu saya masih kuliah dulu, ada teman saya yang sudah melahirkan. Dia melahirkan hanya berselang 1 bulan dari kakaknya. Bedanya, kalo dia melahirkan secara normal, sedangkan kakaknya cesar. Waktu itu saya masih sangat polos dan belum tahu bagaimana konsep melahirkan.

Si Kakak bilang ke saya begini
Kakak : Kasian tuh si A (maksudnya si Adik)
Saya : Kenapa Mbak?
K : ya sekarang dia selalu kesakitan tiap ke kamar mandi, gara2 luka jahitan bekas digunting itu.
Saya : Hah? Digunting? Apanya? (masih ga ngerti)
K : Ya digunting lubangnya lah, biar bayinya lebih gampang keluar.
Saya : Tapi dikasih obat bius kan?
K : ya enggak lah, langsung digunting gitu aja..
Saya : Hahhhh???? Digunting gitu aja??? Apa ga sakit?
K : Tenang aja, kata si A walaupun digunting tapi ga kerasa kok, soalnya rasanya masih kalah sama rasa sakitnya melahirkan.

Dan ternyata memang iya.
Waktu melahirkan Asha, si Papi menemani di samping saya sambil menggenggam tangan saya. Jadi dia bisa melihat seluruh proses kelahirannya. Nah, Papi lah yang memberi tahu saya bahwa tadi saya juga digunting. Saya sendiri malah tidak terasa apa-apa.

Setelah Asha lahir, barulah proses menjahit kembali sobekan bekas digunting tadi. Sempat deg2an, karena ada salah satu teman yang cerita bahwa saat dia dijahit, dia bahkan sampai menggigit kain supaya tidak teriak saking sakitnya. Setelah dibius, mulailah proses dijahit. Memang masih terasa sedikit sakit, tapi bisa saya tahan dengan memikirkan hal yang indah-indah, dan juga berdzikir.

Tahap berikutnya yaitu IMD. Setelah beberapa lama dicoba, Asha belum juga mencapai puting dengan usahanya sendiri, dan karena saya yang kurang sabar, akhirnya langsung saja saya kasih puting ke mulutnya hehehe..
Langsung dihisap oleh Asha, dan Alhamdulillah setelah 10 menit, ASInya keluar.

Nah, setelah menyusui itu, bekas sobekannya diperiksa lagi apakah sudah tertutup dengan baik. Dan ternyata, jahitannya masih kurang sempurna, dan harus dijahit lagi. Masalahnya, untuk jahitan kedua ini tidak memakai bius lagi (saya kurang mengerti alasannya apa). Walaupun mungkin masih ada sisa dari bius yang tadi, tapi pasti sudah berkurang efek biusnya.

Pasti rasanya beda ya, antara kulit yang baru pertama kali dijahit, dengan kulit yang tadinya sudah pernah dijahit lalu dijahit lagi. Masih ada bekas trauma jahitan yang pertama. Dan benar saja, jahitan yang kedua ini terasa sangat sakit. Awalnya saya berusaha untuk tidak berteriak. Selain takut mengganggu pasien yang lain, saya juga khawatir ibu hamil di sebelah saya ini akan semakin ketakutan kalau mendengar teriakan saya. Tapi kemudian di saat-saat terakhir, saya sudah tidak bisa menahan lagi, dan saya berteriak.

Dan perjuangan saya belum berhenti sampai di situ. 5 hari setelah kelahiran Asha, ketika saya di kamar mandi, saya menemukan ada benang yang masih terikat rapi. Saya tahu bahwa itu benang yang digunakan pada jahitan saya. Tapi yang saya bingung, kenapa ada benang yang jatuh? Apalagi benangnya masih terikat rapi. Apakah jahitannya sobek?
Setelah dilihat, ternyata memang luka sobekan itu terbuka, jahitannya lepas. 

Saat itu saya menangis.
Takut.
Membayangkan dijahit untuk ketiga kalinya membuat saya takut.  

Apalagi bidan yang memeriksa sobekan saya ini bilang bahwa bius yang akan dipakai nanti tidak boleh banyak-banyak (lagi-lagi karena alasan yang saya kurang mengerti), dan memang pastinya akan lebih sakit dari yang kemarin-kemarin.
Well, bagaimanapun harus dijalani. Dan jahitan ketiga pun berhasil saya lalui dengan penuh perjuangan ^_^

Di awal-awal menyusui dulu, saya sempat merasa sangat tersiksa. Saya merasa seluruh badan saya sakit semua. Mulai dari atas, yaitu payudara saya yang nyeri dan membengkak karena ASI yang luar biasa banyak. Lalu perut saya yang terasa sakit karena satu minggu tidak bisa buang air besar. Ditambah lagi bekas jahitan yang terasa nyut-nyutan.

Tapi dari semua rasa sakit dan perjuangan itu, tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kebahagiaan telah mendapat seorang putri kecil yang lucu dan menggemaskan bernama Asha. Semuanya seolah terbayar sudah ^_^
Semoga Asha bisa menjadi anak sholehah dan menjadi kebanggaan bagi orang tuanya.
Aamiinn..

Senin, 27 Agustus 2012

Mulai datang haid

Walaupun agak telat, tapi tidak ada salahnya saya mengucapkan..

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H, Mohon maaf lahir dan batin..

Lebaran kemarin, kami berkunjung ke rumah Mbahyut nya Asha di Madiun. Di sana, ada banyak saudara juga yang berkumpul. Salah satunya adalah sepasang adik kakak, laki-laki dan perempuan umur 5 dan 6 tahun. Asha ,yang selama ini sangat menyukai anak kecil, langsung senang bermain dengan mereka. Main kejar-kejaran, nyanyi-nyanyi.

Untungnya, dua anak itu sangat baik dan pintar. Mereka tahu dan mengerti bahwa mereka sedang berhadapan dengan anak yang lebih kecil dari mereka. Jadi mereka sangat berhati-hati ketika bermain atau bergerak di sekitar Asha. Takutnya Asha jatuh. Asha juga kegirangan main dengan mereka. Sampai-sampai, walaupun sudah terlihat capek dan ngantuk, dia tetap tidak mau tidur karena masih ingin main. Asha akhirnya mau tidur jam 9 malam, setelah kedua temannya itu pulang :)

Topik lain ya..
Setelah saya melahirkan Asha, saya tidak haid lamaaaaaa sekali. Saya baru haid lagi tanggal 17 Agustus lalu, jadi sekitar 13 bulan sejak kelahiran Asha. Lama juga ya..

Dulu, Ibu saya langsung dapat haid setelah melahirkan anak-anaknya. Begitu juga dengan kakak perempuan dan kakak ipar saya. Sedangkan Ibu mertua saya baru dapat haid lagi 1 tahun setelah melahirkan. Teman-teman saya juga berlainan masa datang haidnya, ada yang 7 bulan, ada yang 6 bulan, ada yang 10 bulan.

Menurut dokter, hal itu wajar. Biasanya, ibu yang memberi ASI eksklusiif pada bayinya akan tertunda masa haidnya. Hal ini karena hormon di dalam tubuh sang ibu.

"Cepat atau lambatnya untuk kembali lagi haid salah satunya dipengaruhi oleh hormon prolaktin dan progesteron. Prolaktin sendiri adalah hormon yang dapat merangsang kelenjar susu memproduksi ASI. Jika ibu menyusui secara efektif, maka akan meningkatkan produksi hormon prolaktin, dimana peningkatan hormon prolaktin ini dapat menekan hormon progesteron dan estrogen yang terlibat dalam terjadinya haid. Artinya jika, ibu menyusui bayi secara efektif dan kontinyu tanpa diselang oleh susu formula, maka untuk terjadinya kembali haid akan lebih lama, bisa sampai satu tahun bahkan ada yang dua tahun. Ini yang dinamakan kontrasepsi alami."

Sumber : Haid Pasca Melahirkan

Seperti halnya anak-anak lain, Asha sangat suka kalau diajak jalan-jalan. Pergi kemana saja tidak masalah, pokoknya ke luar rumah. Mungkin dia bosan dan suntuk di dalam rumah terus :)
Tapi semua akan berjalan baik asalkan kondisi mood Asha sedang bagus. Kalau moodnya lagi jelek, ngantuk misalnya, pasti langsung rewel.

Jalan-jalan di lapangan belakang rumah

Makan buah kersen asik sekaliiiiiii..

 Siap-siap mau jalan-jalan ke Simpang Lima Gumul dengan jaket kebesaran

 Simpang Lima Gumul



Kamis, 08 September 2011

akte kelahiran


Hari ini waktunya bikin akte kelahiran untuk Asha. Aku akan ceritakan gimana proses memperoleh akte kelahiran untuk anak kita, mungkin bisa jadi info untuk para orang tua yang ingin dapat akte juga buat anaknya. 

Yang harus dilakukan pertama-tama adalah mengambil formulir permohonan akta kelahiran di dinas kependudukan dan catatan sipil setempat. Karena ketidaktahuanku tadi aku harus pulang lagi karena di formulir itu dibutuhkan data 2 orang saksi beserta tanda tangan dan fotokopi KTP nya, sedangkan aku belum menyiapkannya. Tadi sempat berpikir “apa kenalan aja ya sama 2 orang disini, minta mereka tanda tangan dan pinjam KTP nya buat di fotokopi, beres..jadi ga perlu bolak-balik..” tapi ga berani :)


Yang dimaksud 2 orang saksi di atas bebas boleh siapa saja, asalkan memiliki KTP yang masih hidup (belum habis masa berlakunya). Lalu kartu keluarganya harus KK yang baru, yang sudah ada nama anak kita di dalamnya. Surat kelahiran dari kelurahan bisa didapatkan dengan syarat-syarat sbb:
1. Fotokopi KTP orang tua
2. Fotokopi surat nikah
3. Surat pengantar dari ketua RT setempat
4. Fotokopi Surat keterangan kelahiran dari bidan / rumah sakit / puskemas

Yang paling mencuri perhatianku sejak membuat akte kelahiran ini, juga waktu membuat KTP dan KK baru di kelurahan beberapa hari sebelumnya, yaitu biaya nya GRATIS.. mengingat dulu terakhir kali aku bikin KTP masih bayar 20 ribu, sekarang sudah bener-bener kemajuan besar. Dimana-mana gratis.. 

Two thumbs up deh.. d^_^b