Minggu, 12 Mei 2013

Eco Green Park


Hari Sabtu kemarin, kami sekeluarga pergi berlibur ke Eco Green Park (EGP) di Batu. Waktu kami datang ke sana kemarin, suasananya tergolong sepi untuk ukuran weekend. Banyak moment di mana kami berada di suatu spot yang pengunjungnya hanya kami bertiga. Jadi berasa properti pribadi :)

Mungkin sepinya tempat ini dikarenakan tempatnya yang masih baru, jadi belum banyak masyarakat yang ngeh dengan tempat wisata ini. Dan juga lokasinya yang berada di samping Batu Secret Zoo (BSZ) yang lebih dulu populer, mungkin akan membuat beberapa orang lebih memilih masuk ke BSZ yang sudah jelas-jelas menarik, daripada berkunjung ke EGP yang belum ketahuan isinya seperti apa.

sepiiiiiiiiiiiiiii...


tapi malah asik buat foto-foto :)


Itu juga yang sempat dialami oleh Papi kemarin. Rencana awal memang kami ingin ke EGP. Tapi begitu sudah sampai di sana, Papi sempat ragu.
”enaknya ke Eco Green Park atau Secret Zoo?” tanyanya dengan suara penuh keraguan.

Tapi akhirnya kami tetap ke EGP seperti rencana awal. Harga tiket masuk untuk weekend Rp 45.000,- dan weekday Rp 30.000,- per orang. Menurut saya, Eco Green Park tidak kalah dengan BSZ. Tempatnya bersih, tempat sampah tersedia di mana-mana, semuanya tertata rapi. Isinya didominasi oleh burung, serangga, dan tanaman.

Tempat ini cocok untuk keluarga yang membawa anak kecil. Soalnya selain tempatnya yang bernuansa alam, banyak juga sarana edukasi yang tersedia di sini. Seperti pengolahan sampah, pengolahan susu, pembelajaran tumbuh-tumbuhan, sampai ilmu fisika juga ada. Sayang kemarin tempat simulasi gempa sedang direnovasi.

Patung binatang hasil daur ulang


main-main di Music Plaza




Di sini juga bebas berfoto dengan burung, dari burung nuri sampai burung elang. Bisa memberi makan burung, memberi makan ikan dan bebek (kalau yang ini harus beli makanannya seharga 3.000 rupiah).

memberi makan ikan koi 

kalo memberi makan burung gratis, tinggal bilang sama mas-mas penjaganya pengen ngasih makan burung, trus dikasih pisang deh..

ngobrol sama merak yang dibiarkan bebas 

foto sama burung



Yang paling saya suka di EGP adalah Bioskop 3D nya. Cerita yang diangkat tentang Hanoman. Para pengunjung diajak masuk ke sebuah ruangan berbentuk lingkaran, dilengkapi dengan semacam pagar besi melingkar untuk sandaran atau pegangan (karena pengunjung menonton sambil berdiri), dan atapnya melengkung berbentuk setengah bola.

Ketika pintu mulai ditutup dan suasana mulai gelap, ada 2 anak kecil yang menangis karena takut, sampai harus dibawa keluar oleh orang tuanya. Asha yang semula digendong Papi, ikut-ikutan merengek juga. Tapi setelah saya gendong, dia jadi tenang dan tidak takut lagi.

Sepanjang film diputar, tanah tempat pijakan kita ikut bergetar mengikuti alur cerita. Dan seluruh atap melengkung itulah layar bioskopnya. Jadi Hanomannya bisa muncul di mana saja. Kadang di depan kita, kadang di atas, kadang juga kita harus memutar karena dia ada di belakang kita. Jadi seolah-olah kita berada di dalam arena pertempuran antara Hanoman dan Rahwana.

Sangat seru pokoknya. Ditambah dengan bahasa yang digunakan adalah bahasa jawa yang lucu, sayangnya kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut tokoh-tokohnya kurang keras, sehingga masih kalah dengan suara efek ledakan, musik dan narasinya.

Sayangnya lagi kemarin saya tidak sempat memotret, jadi saya copy fotonya dari web asli Eco Green Park di SINI.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar